News

Strengthening Research Governance, the PPI Study Program Presents a Research Roadmap at the FUSA UIN Mataram Lecturer Discussion Forum

Forum diskusi dosen Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama (FUSA) UIN Mataram diselenggarakan pada Kamis 11 Desember 2025, bertempat di Lesehan Pondok Galih Mataram. Para pimpinan fakultas, kaprodi, sekprodi, dan seluruh dosen dari tiga program studi yaitu Ilmu al-Qur’an dan Tafsir (IQT), Studi Agama (SA), dan Pemikiran Politik Islam (PPI), berkumpul untuk mendengarkan paparan Roadmap Penelitian 2025–2030 yang disusun oleh masing-masing Prodi.

Dokumen roadmap PPI yang dipresentasikan menjadi salah satu fokus diskusi forum, dan menginisiasi terbukanya sejumlah kemungkinan baru bagi pengembangan riset di lingkungan FUSA. Roadmap itu menempatkan PPI sebagai ruang kajian kritis tentang relasi agama, negara, dan masyarakat, dengan fokus pada tiga ranah kajian: Filsafat Politik & Teori Kritis, Politik Digital, Media & Masyarakat, dan Negara, Institusi & Kebijakan. Ketiganya disusun sebagai poros riset yang saling terhubung, sekaligus menjadi identitas akademik PPI dalam lima tahun mendatang.

Dalam pemaparannya, Kaprodi PPI Muh. Alwi Parhanudin didampingi Sekprodi Very Wahyudi menjelaskan bagaimana ranah pertama, Filsafat Politik & Teori Kritis, mendorong pembacaan baru atas pemikiran politik Islam, dinamika politik Indonesia, serta teori-teori besar dari tradisi global. Ranah kedua, Politik Digital, Media & Masyarakat, menyoroti transformasi ruang publik, pergeseran otoritas pengetahuan, dan dampak algoritma pada demokrasi. Sementara ranah ketiga, Negara, Institusi & Kebijakan, memetakan isu konstitusionalisme, tata kelola negara, kesenjangan sosial, hingga peran aktor lokal dan transnasional dalam pembentukan kebijakan.

Roadmap juga merinci tiga fase pengembangan riset: konsolidasi dan pemetaan (2025–2026), pendalaman dan kolaborasi (2027–2028), serta integrasi dan kontribusi kebijakan (2029–2030). Target luaran riset juga dipaparkan, mulai dari artikel jurnal nasional dan internasional, buku, policy brief, hingga produk digital bertema pemikiran politik Islam.

Dekan FUSA, Prof. Dr. Suprapto, M.Ag. dalam tanggapannya menyampaikan apresiasi mendalam. “Saya sangat bangga dengan forum ini, sebab tidak hanya berkutat pada level diskusi naratif dialogis semata melainkan menginisiasi pemetaan baru serta mencetuskan dokumen-dokumen yang dapat menjadi pegangan dalam pengembangan riset baik dosen dan mahasiswa ke depan. Saya kira semua dokumen ini siap untuk dibukukan dan disebarkan ke khalayak akademik FUSA UIN Mataram” ujarnya.

Wakil Dekan I, Prof. Dr. Winengan, M.Si. juga mengingatkan pentingnya fondasi keilmuan sebagai pijakan roadmap. “Selain memperhatikan tata kelola riset, roadmap harus disusun berdasarkan ‘tangga’ keilmuan dan orientasi akademik,” katanya.

Sementara itu Wakil Dekan II, Dr. H. Agus, M.Si., menekankan pentingnya identitas akademik setiap prodi. “Semua prodi harus berporos pada ‘khittah’ keilmuan masing-masing, sehingga pengembangan keilmuan terasa memiliki pencirian yang benar-benar merepresentasikan wajah prodi,” ujarnya. Selain itu, ia juga menekankan bahwa arah kajian dan riset di setiap prodi berpayung pada domain ‘ontologis kefusaan’ yaitu dimensi sosial politik keagamaan.

Diskusi berlangsung selama dua jam dengan berbagai masukan dari dosen, mulai dari peluang kolaborasi lintas kajian hingga dorongan agar integrasi riset mahasiswa dan dosen diperkuat sejak awal. Forum hari itu memberi sinyal bahwa FUSA sedang menggerakkan mesin risetnya dengan ritme baru, lebih terarah, lebih kolaboratif, dan lebih siap menjawab tantangan akademik saat ini dan di masa mendatang, khususnya dalam menyongsong UIN Mataram Toward International University.

Related Articles

Back to top button